Sabtu, 28 Januari 2012

Lorong Waktu yang Menggemparkan Dunia

Misteri peristiwa yang terjadi beberapa tahun
yang lalu, dan yang membuat gempar adalah
nasib mujur kemunculan kembali korban Kapal
Laut Titanic yang masih hidup.

Dua orang korban musibah Kapal Titanic pada
tahun 1912, tiba-tiba muncul dalam keadaan masih
hidup. Secara fisik mereka tidak berubah persis
seperti semula. Teori lorong waktu telah
menjawabnya.

Di antara kedua korban yang beruntung ini, yang
satu adalah seorang penumpang wanita yang
ditemukan pada tahun 1990, dan lainnya lagi
adalah seorang kapten kapal Titanic yang
ditemukan pada tahun 1991.
Kapten kapal Smith ditemukan pada tanggal 9
Agustus 1991, setahun setelah ditemukannya
seorang korban yang beruntung bernama Wenny
Kathe, dia diselamatkan dari atas gunung es.

Selama berpuluh-puluh tahun hanyut terapung-
apung di atas lautan, namun tidak membuatnya
kelihatan tua dan lemah, Kapten Smith yang
meskipun telah berusia 139 tahun, namun masih
tampak seperti orang yang berusia 60 tahun lebih,
dan bahkan dia masih menganggap bahwa saat itu
adalah masa-masa sekitar tenggelamnya Kapal
Titanic pada tanggal 15 April 1912.

Melalui identifikasi sidik jari yang masih tersimpan
dalam catatan pelayaran laut, maka bisa dipastikan
identitas Kapten Smith.

Seorang lagi korban musibah Kapal Titanic, Wenny
Kathe yang berusia 29 tahun diselamatkan di atas
gumpalan es Samudera Atlantik Utara pada tanggal
24 September 1990.

Namun yang membuat orang terkejut adalah sejak
dia hilang pada tahun 1912 hingga sekarang, tidak
terlihat tanda-tanda tua sedikitpun juga.

Dia ditemukan dan diselamatkan di atas gumpalan
es 363 km barat daya Islandia. Kantor pelayaran
telah menemukan daftar nama penumpang Kapal
Titanic dan menegaskan keaslian identitas dirinya.

Smith, kapten kapal Titanic dan penumpangnya
Wenny Kathe adalah saksi hidup orang hilang yang
muncul kembali melalui lintasan lorong waktu.

Oleh karena mereka menghilang dan muncul
kembali secara misterius, maka hal ini sangat
menarik perhatian orang banyak.
Ilmuwan Amerika Ado Snandick berpendapat,
mata manusia tidak bisa melihat keberadaan suatu
benda dalam ruang lain, itulah obyektifitas
keberadaan lorong waktu.

Dalam sejarah, orang, kapal-kapal, pesawat
terbang dan lain-lain sebagainya yang hilang secara
misterius seperti yang sering kita dengar di
perairan Segitiga Bermuda, sebenarnya adalah
masuk ke dalam lorong waktu yang misterius ini.

Dalam penyelidikannya terhadap lorong waktu,
John Buckally mengemukakan teori hipotesanya
sebagai berikut.
Pertama, obyektifitas keberadaan lorong waktu
adalah bersifat kematerialan, tidak terlihat, tidak
dapat disentuh, tertutup untuk dunia fana
kehidupan umat manusia, namun tidak mutlak,
karena terkadang ia akan membukanya.

Kedua, lorong waktu dengan dunia manusia
bukanlah suatu sistem waktu, setelah memasuki
seperangkat sistem waktu, ada kemungkinan
kembali ke masa lalu yang sangat jauh, atau
memasuki masa depan, karena di dalam lorong
waktu tersebut, waktu dapat bersifat searah
maupun berlawanan arah, bisa bergerak lurus juga
bisa berbalik, dan bahkan bisa diam membeku.

Ketiga, terhadap dunia fana (ruang fisik kita) di
bumi, jika memasuki lorong waktu, berarti hilang
secara misterius, dan jika keluar dari lorong waktu
itu, maka artinya adalah muncul lagi secara
misterius.

Disebabkan lorong waktu dan bumi bukan
merupakan sebuah sistem waktu, dan karena
waktu bisa diam membeku, maka meskipun telah
hilang selama 3 tahun, 5 tahun, bahkan 30 atau 50
tahun, waktunya sama seperti dengan satu atau
setengah hari.

Dalam ajaran Buddha terdapat satu bait penuturan:
“Bagaikan sehari di kahyangan, tapi rasanya sudah
ribuan tahun lamanya di bumi, tampaknya
memiliki makna kebenaran yang sangat dalam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar